“Lingkungan BMT Beringharjo & Radar Yogyakarta: Marissa Haque Fawzi”
Selasa Agustus 23rd 2011, 12:23
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Cinta Kasih, Lingkungan Kesejahteraan

Tupoksi BMT Memotong Laju Rentenir

Sumber: http://www.radarjogja.co.id/ekonomi-bisn…

hanum-amin-rais-becak-mursida-rambe-marissa-haque-bmt-beringharjo Pinjaman kredit menjadi idola pelaku usaha. Terutama bagi pedagang pasar tradisional. Hanya saja, saat ini masih saja ditemui pedagang yang lari ke rentenir untuk mendapat pinjaman uang di bawah Rp 1 juta. Memang awalnya, prosedur mendapatkan dana tersebut mudah. Namun ujung-ujungnya, bunga yang diterapkan akan membelit dan merugikan pedagang bersangkutan.

“Peran koperasi, termasuk BMT (Baitul Maal wa Tamwil) sangat penting untuk memotong laju rentenir,” kata Marissa Haque Fawzi, Duta BMT saat mempresentasikan hasil kajiannya di Kantor Pusat BMT Beringharjo, kemarin (19/8).

Lebih lanjut, dari data yang dimiliki Marissa, saat ini sebagian besar memang menuju koperasi dalam mendapatkan pinjaman uang di bawah Rp 1 juta. Jika dipersentasekan sekitar 45,5 persen. Sedangkan 36,4 persen lari ke saudara, dan 13,6 persen ke tetangga untuk mencari pinjaman cepat. Selebihnya, 4,5 persen pinjam ke sesama pedagang.

hanum-amin-rais-bmt-beringharjo-yogyakarta-mas-rury-marissa-haque“Nah, yang persentase terkecil itu diduga sebagai rentenir. Peran BMT yang merupakan koperasi syariah, mengambil target market ke masyarakat yang belum mempercayakan koperasi sebagai tujuan pinjaman kreditnya,” paparnya.

Menurut Marissa, BMT merupakan wajah Indonesia di masa mendatang. Apalagi sebagian besar masyarakat Indonesia berada di level usaha kecil dan menengah. Biasanya mereka mengajukan pinjaman tidak sampai ratusan juta layaknya pengusaha besar. Sedangkan untuk mendatangi perbankan, mereka membutuhkan total cost yang besar pula. Maka, keberadaan BMT menjadi satu pilihan bagi masyarakat.

“BMT tidak sama dengan perbankan. Ini merupakan satu keuntungan sekaligus satu kendala. Keberadaan BMT tidak mengikuti Peraturan Bank Indonesia (PBI), sehingga aturan mengenai ekonomi syariah ini belum sepenuhnya diatur. Maka diperlukan satu regulasi yang jelas kedepannya,” katanya istri Ikang Fawzi ini. (ila)



“Lingkungan Damai di Yogyakarta: Marissa Haque Fawzi”
Minggu Agustus 07th 2011, 15:36
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Cinta Kasih, Lingkungan Keluarga, Lingkungan Kesejahteraan

Kata Mbak Meta Thereskova salah seorang karibku di Yogyakarta: “…kan Yogyakarta memang istimewa?” Hehe…iya juga ya, bukankah Yogyakarta adalah DIY singkatan dari Daerah Istimewa Yogyakarta?

Di hari Minggu yang sepi di Pelangi Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, pada hari kedua pasca kepulangan dari Yogyakarta kemarin, masih terbayang suasana dan aura Yogya yang pada bulan Agustus 2011 ini semilir anginnya terasa sangat sejuk. Sambil membalas beberapa sms terakhir yang masih tersisa di dalam kedua HP ku, tangan ini pun terasa ingin cepat-cepat mengatur jadwal keberangkatan berikutnya untuk kembali ke Yogyakarta.

Yogya memang sekarang menjadi seperti rumah kedua kami (Ikang dan Marissa). Ada rasa damai-menyenangkan tertentu yang kami rasakan dikala bersentuhan dengan tradisi, alam, kultur, serta masyarakatnya di sana. Kesan mendalam kami bahwa masyarakat Yogya itu masyarakat hangat serta sangat santun. Bahkan Kak Rambe (dra. Mursida Rambe) sahabatku sejak lama seorang pejuang dan pengusaha BMT asal Sumatra Utara, karena sudah sejak SMA sekolah di Yogya dan menikah dengan seorang pria Yogya, sekarang sudah sangat ‘njaweni.’ Malah terkadang lebih Jawa dari orang Jawa yang asli.

marissa-haque-ikang-fawzi-pasangan_harmonis-20100821-001-kapanlagiPada bulan Januari tahun 2011 lalu, Ikang Fawzi suamiku alhamdulillah berhasil mendapatkan gelar MBA nya dari FEB UGM dengan nilai ujian thesis ”A” bulat. Ikang suamiku memang selalu punya hati dan penuh perhatian pada bisnis properti yang telah dijalankannya sejak awal lulus S1 dulu dari FISIP UI bersama Ir. Ade Syamsul Nilwan Fawzi kakaknya yang menjadi seorang arsitek (lulusan FT Arsitektur UI).  Insya Allah dalam bulan suci Ramadhan ini saya berhasil mengikuti langkah sukses Ikang Fawzi suamiku. Yaitu mendapatkan gelar MBA dari FEB UGM.

Lalu apakah saya juga mampu mendapatkan nilai kelulusan ujian thesis dengan juga bernilai ”A” bulat seperti Ikang suamiku? Hhhmmm…entahlah…terserah Allah SWT saja, dan terserah penilaian Dewan Penguji besok ini . Karenanya saya jadi lalu  terngiang pesan atau wejangan dari Mamaku almarhumah asal Madura, R.Ay Mieke Soeharijah sebagai berikut: “… just do the best and Allah will do the rest!”

Penelitianku untuk MBA dari FEB (Fakultas Ekonomi Bisnis) UGM (Universitas Gadjah Mada) adalah tentang Baitut Tamwil atau Baitul Maal wa Tamwil. Sebuah lembaga keuangan mikro syariah non-bank di kota Yogyakarta bernama BMT Beringhardjo. Bagaimana strategi bersaing serta bertahan para kelompok penggiat BMT di seluruh Indonesia, dengan studi kasus di Yogyakarta . BMT yang selama ini terbangun secara alamiah serta tanpa sentuhan atau campur-tangan pemerintah pusat.  Serta sampai hari ini menolak untuk diberlakukan sama denga perbankan pada umumnya yang berada di bawah PBI (Peraturan Bank Indonesia).

Namun, ditengah gempuran arus deras hot money dari luar negeri belakangan ini, melalui BEI (Bura Efek Indonesia) serta beberapa perbankan nasional dan asing yang turut masuk pada pasar yang  sama ber’baju’ syariah serta memberikan penawaran lebih menarik berupa cost of money yang rendah. Hari ini, para penggiat BMT ini tidak bisa lagi beroperasi dengan cara tradisonal seperti biasanya di masa kejayaan masa lalu. Diperlukan “Strategy and Initiative Management Office.

Bila sebelumnya seperti layaknya pengusaha kelas UKM dan UMKM, BMT sering menganggap tidak terlalu penting urusan strategi, maka pada masa borderless world sekarang ini strategi memaegang peranan signifikan dalam memenangkan persaingan serta mampu menjawab tantangan zaman.

Sejujurnya, BOS atau the Blue Ocean Strategy belum dibutuhkan pada level BMT. Karena dengan hampir 80% penduduk Muslim di Indonesia, BMT yang berlandaskan Islam secara otomatis menjadikan para pesaing dari lembaga keuangan konvensional menjadi “tidak relevan.”

Yang penting dalam kaitan keberadaan BMT agar berkelanjutan adalah, bahwa bagaimana setelah mereka tahu bahwa mereka baik, mereka juga tahu seberapa baik yang mereka inginkan ke depannnya (harus dicapai). Atau dalam bahasa ‘keren’nya adalah: “They know that they are good, but how good they really wanna be!” Tentu semuanya kembali kepada tujuan awal perusahaan didirikan atau dibentuk, berupa visi dan misi BMT.

Bersentuhan dengan Mazhab Bulaksumur di UGM, mengasah asa kepedulianku pada aliran Ekonomi Kerakyatan. Almarhum Prof. Mubyarto memang tidak pernah kutemui secara langsung, karena saya baru bergabung dengan UGM pada masa kurang dari empat tahun belakangan ini. Namun hampir seluruh buku yang dikarang dan ditulis beliau telah habis saya baca. Sehingga ketika saya memperdalam sistem ekonomi dalam Islam, langsung terasa ” klik” atau kohesif seluruh pemikiran beliau, mirip dengan yang apa yang ada di dalam Al Quran.

Seperti juga dalam banyak pemkiran Prof. Satjipto Rahardjo dalam ranah Ilmu Hukum, rasanya kok banyak sekali yang klik dengan pemikiran sistem hukum dalam Islam!

Lalu kesamaan di antara keduanya adalah, bahwa dua professor favoritku tersebut banyak dimusuhi oleh koleganya sendiri karena dianggap berpikir diluar kotak (out of the box). Namun, bukankah Rasulullah Muhammad SAW disaat menjalankan upaya dakwah rahmatan lil alamin nya juga berkondisi demikian?

Sehingga ketika datang pelecehan massal dari arah tak bertanggungjawab yang menuding bahwa saya mencari popularitas dengan memperdalam ekonomi Islam, lalu karena saya adalah artis tua yang sudah tidak laku lagi di sana-sini, maka walau hati ini terasa pilu namun langkah kaki tetap kuayuhkan secara mantap menuju ‘Muara” Sang Kekasih AbadiAllah Azza wa Jalla.

Di sisa usiaku kini, masih ada beberapa cita-cita yang belum kesampaian. Salah satunya adalah menjadi ahli dalam strategi ekonomi syariah serta menjadi konsultan pada Bursa Efek Indonesia di Jakarta terkait the Islamic Index. Insya Allah demikian adanya, untuk hidup serta masa depanku di jalan Allah.

Seluruh ilmu yang kudapatkan di dalam pencapaiannya adalah dari Universitas Gadjah Mada di Yogayakarta (dan Jakarta). I wish Allah SWT will always bless UGM and Yogyakarta as well.

Amiiin…

Sumber (1): Sumber (2): “Damai Hatiku di Yogyakarta: Marissa Haque Fawzi”



Lingkungan Jurnas & PT Telkom Jabar Mencerdaskan: Marissa Haque & Ikang Fawzi
Senin Maret 28th 2011, 14:29
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Cinta Kasih, Lingkungan Keluarga, Lingkungan Kesejahteraan

Terimakasih banyak Bang Syam, may Allah always bless you…

Pelatihan UKM di Tasikmalaya 2011: Koran Jurnas, PT. Telkom, Syamsudin Ch. Chaesy dan Marissa Haque

ikang_fawzi_marissa_haque-kapanlagi_com_jpg

Manager Kandatel Tasikmalaya, Wahyudin kepada wartawan mengatakan, pelatihan digelar kantor pusatnya, dan jajarannya hanya menfasilitasi tempat serta peserta. Pada kegiatan ini selain berupa penyampaian materi pencerahan oleh sejumlah sumber kompeten, pihaknya mulai menyiapkan website bagi pelaku UKM sebagai ajang publikasi.

Selain beberapa tantangan lama masih mengungkungi pelaku industri UKM halnya, kemampuan SDM, inovasi produk dan akses pasar, Ketua Kadin Kota Tasikmalaya, Wahyu Tri Rahmadi, saat ditanya terpisah memaparkan, keterbatasan akses pelaku ini terhadap fasilitas promosi atau publikasi digital adalah bagian lain dari tantangan yang di harapkan ke depan terpecahkan.

“Karenanya, kita sangat apresiasif kegiatan serupa ini sebagai kepedulian yang diharapkan lebih komprehensif memenuhi kebutuhan solusi permasalahan yang dialami pelaku UKM,” ujar Wahyu. “Saya pun yakin, melalui layanan publikasi digital gratis, sangat besar artinya bagi kalangan UKM, produk-produk unggulan lokal kita-akan terpromosikan secara luas yang tentu artinya bagi kemajuan ekonomi masyarakat,” pungkas dia.

Pada pelatihan itu hadir imagineer N. Syamsuddin Ch. Haesy, sebagai motivator yang bersama imagineer Yus Ruslan Achmad memberikan materi Imagineering Mindset, Master trainer Ismeth Ali, Pemimpin Redaksi Jurnal Nasional Asro kamal Rokan, dan Marissa Haque. [nm]

Sumber: http://www.akarpadi.com/?p=1928



Lingkungan KADIN, Bisnis dan Property-tainment Jadi Buku Tandem Kami: Ikang FAwzi & Marissa Haque

ikang-dan-marissa-hamil-bella-di-vollendam-belanda-1988

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Penyanyi rock Ikang Fawzi mengaku sedang menggarap buku Propertitainment yaitu tentang properti dan entertainment, sesuai dengan usaha yang sedang digelutinya sekarang. Buku ini digarapnya bersama dengan istrinya, Marissa Haque. \”Dalam waktu dekat saya berencana meluncurkan buku tentang proses kreatif Mas Ikang dalam bermusik. Sebelumnya saya menulis buku berjudul Bahasa Kasih tentang pengajaran bahasa Inggris Bagi Tuna Rungu dan Aminah tentang anak-anak dan lingkungan hidup,\” ungkap Marissa yang juga pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Banten. Marissa datang ke Makassar sebagai Duta LP3I. Selama di Makassar, Marissa berpromosi tentang LP3I dan tuntutan zaman yang membutuhkan tenaga kerja yang andal. Menemani Marissa, Ikang juga mengunjungi Trans Studio Theme Park. Dalam kunjungannya ke Trans Studio, Ikang sempat malantunkan dua lagu yang berjudul It\’s My Life yang dipopulerkan Bon Jovy dan Munajat Cinta yang dipopulerkan The Rock. Ikang juga memiliki hubungan keluarga dengan Ishadi SK, salah satu pengelola Trans Corp.(*)

Terbitkan Entri
Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2011/03/11/ikang-fawzi-bikin-buku-properti-dan-hiburan


Berdua Marissa Haque Ikang Fawzi Bikin Buku tentang Properti-tainment


“Imam Ghazali dalam Kehidupan Kami: Dikutip oleh Marissa Haque & Ikang Fawzi”
Jumat Maret 04th 2011, 23:35
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Keluarga, Lingkungan Kesejahteraan

Menurut Imam Al-Ghazali, kepatuhan kepada Allah akan mengilapkan hati seseorang, sedangkan maksiat kepada-Nya, akan menghitamkannya. Nah, bagaimana dgn orang yg berbuat dosa lalu segera berbuat baik? Menurut Al Ghazali, hatinya tidak otomatis hitam. Cuma cahayanya jadi berkurang. Sama spt sebuah cermin yg tertutup hembusan nafas lalu disapu, kemudian dihembusi lagi, disapu lagi. Meski bersih, masih menyisakan keruh.

Sumber: http://marissahaque.blogdetik.com

“Imam Ghazali dalam Kehidupan Kami: Dikutip oleh Marissa Haque & Ikang Fawzi”



Lingkungan Yogyakarta dan UGM Mengukuhkan 25 Tahun Pernikahan Kami: Marissa Haque & Ikang Fawzi
Selasa Maret 01st 2011, 23:45
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Cinta Kasih, Lingkungan Keluarga, Lingkungan Kesejahteraan
Allahu Akbar!

Ya Allaaah… fabiayyi ala’i Robbi kumma tukadzdibaaan… tak ada lagi ni’mat yang akan kami dustakan Ya Allaaah… Terimakasih banyak atas rezeki umur panjang, kebahagiaan berkelanjutan… anak-anak sehat dan cantik-cerdas… teman-teman kami yang setia dalam suka dan duka… terimakasih Ya Allah…terimakasih…

Bulan-bulan terakhir ini kami berdua semakin banyak berdua… bulan madu teruuus… Alhamdulillaaah…



Lingkungan LP3I Penuh Empati & Dukungan Human Capital: Marissa Haque & Ikang Fawzi
Jumat Februari 25th 2011, 02:06
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Keluarga, Lingkungan Kesejahteraan
Empati untuk Sesama
LP3I Membangun Human Capital Indonesia Berkelanjutan
Oleh: Hj. Marissa Haque Fawzi
I. Pendidikan Indonesia
Bagi sebagian besar penduduk Indonesia, pendidikan masih dianggap sebagai barang langka nan mahal. Bahkan sebagian lainnya lagi menyatakan, kalau pendidikan itu tidak perlu karena dianggap sebagai semacam cost centre bukan investasi. Dana minim yang tersedia dianggap lebih bermanfaat bila dipakai untuk beberapa kebutuhan primer namun konsumtif. Seandainyapun dana pendidikan tersedia, maka pilihan pendidikan bagi anak-anak mereka adalah yang bersifat menaikkan gengsi semata semisal S1 umum. Dengan catatan bilamana pernikahan anak-anak mereka kelak dilaksanakan, dalam undangan pernikahan sudah tercantum gelar akademisnya. Sejujurnya, cara berfikir bahwa pendidikan adalah semata biaya keluar, serta menjadi sarjana S1 semata sudah dianggap cukup untuk menjawab tantangan zaman merupakan sebuah kekeliruan latent dan massif. Karena terbukti disaat sebuah lowongan pekerjaan dibuka, berduyun-duyun bahkan saling bertumpukan ‘manusia sarjana S1 Indonesia’ dengan map berisi photo copy ijazah S1 mereka, masih harus bertarung menjadi pemenang dalam hal mendapatkan pekerjaan yang diharapkan. Padahal pola pendidikan S1 pada umumnya di Indonesia, tidak mengedapankan kecakapan tertentu bagi para lulusannya untuk langsung siap kerja.

II. Ledakan Penduduk
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional atau BKKBN menyatakan bahwa ledakan penduduk mengancam Indonesia jika grand design atau desain induk kependudukan tidak segera dibuat. Kepala BKKBN Sugiri Syarif pada acara Rapat Kerja Nasional Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana di Kantor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Jakarta mengatakan bahwa berdasarkan hasil sensus 2010 penduduk Indonesia bertambah 32,5 juta jiwa dan rata-rata pertumbuhan 1,49 persen. Artinya apabila laju pertambahan penduduk masih 1,49 persen saja maka jumlah penduduk Indonesia pda tahun 2045 kelak akan menjadi sekitar 450 juta jiwa. Hal ini berarti satu dari 20 penduduk dunia adalah orang Indonesia. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, secara otomatis akan menjadi beban pemerintah dalam menyediakan anggaran untuk: (1) kesehatan; (2) pendidikan; (3) pangan; (4) sandang; (5) papan, dan lain sebagainya yang dapat terkait dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Ledakan penduduk ini juga berarti persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat dan tajam. Hanya mereka yang memiliki akses kepada pendidikan tertentu sajalah yan mampu memenangkan persaingan sehingga mampu mencukupi kebutuhan primer maupun sekunder mereka. Namun sayangnya system pendidikan di tanah air belum semuanya mampu menjawab tantangan zaman tersebut.

III. Pengangguran yang Sarjana
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk: (1) orang yang sama sekali tidak bekerja; (2) sedang mencari kerja; (3) bekerja kurang dari dua hari selama seminggu; atau (4) seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Menurut kompas.com[1], Pengangguran di Indonesia kini mencapai 8,59 juta orang atau 7,41 persen dari total angkatan kerja di Indonesia yaitu sebanyak 116 juta orang. Sementara target pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 5,5 persen dinilai tidak cukup untuk menyerap tenaga kerja di usia produktif. Dalam seminar “Economic Outlook 2010″ lalu, dinyatakan bahwa anggaran belanja negara yang kurang dalam peningkatan infrastruktur, jelas tidak dapat menekan angka pengangguran. T erutama dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 5 persen. Indonesia membutuhkan petumbuhan setidaknya 7,3 persen per tahun untuk mengurangi angka pengangguran. Pertumbuhan itu bisa dicapai kalau laju inflasi berkisar 4 hingga 6 persen. Suku bunga Indonesia pun setidaknya berada di angka 5-7 persen dan nilai tukar rupiah Rp 9.500-Rp 10.500 per 1 $ US.

Sementara BPS merasa perlu melengkapi dengan data kelompok masyarakat yang setengah pengangguran[2], yaitu mereka yang merupakan bagian dari angkatan kerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu). Kelompok masyarakat setengah pengangguran dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
(1) Setengah Penganggur Terpaksa
Adalah mereka yang bekerja dibawah jam kerja normal, namun masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan lain;

(2) Setengah Penganggur Sukarela
Adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain, misalnya tenaga ahli yang gajinya sangat besar.

Dengan masih tingginya angka pengangguran tersebut di Indonesia, LP3I melihat ada yang masih harus dikoreksi dari sitem ajar-mengajar di tanah air. Karenanya LP3I menawarkan satu terobosan system agar masyarakat muda Indonesia mampu menjawab tantangan zaman.

IV. Paradigm Shift dari LP3I
Peningkatan daya saing bangsa Indonesia kedepannya adalah hal yang inevitable/tidak dapat dihindari. Setelah mendapatkan izin dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, LP3I mengusung formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Bila sebelumnya konsep standar minimum kelulusan adalah: (1) kognisi; (2) afeksi; dan (3) psiko-motorik/konasi. Maka LP3I melakukan langkah terpuji dengan melakukan paradigm shift berupa: (1) psiko-motorik/konasi; (2) afeksi, lulus menjadi D3 dengan gelar Ahli Madya (AMD), lalu mendapatkan kesempatan kerja pada strata middle management di berbagai kantor yang telah menjadi mitra LP3I selama ini. Kemudian dengan uang mereka para lulusan ini sendiri—bahkan beberapa perusahaan memberikan beasiswa langsung kepada mereka—untuk melanjutkan kuliah hingga S1 dan mendapatkan berbagai macam teori untuk perkembangan kognisi/intelektual sesuai jurusan mereka. Sehingga pola sjar-mengajar yang ditawarkan oleh LP3I berupa: (1) psiko-motorik/konasi; (2) afeksi; dan baru (3) kognisi.

V. Lulusan LP3I Unggul
Diantara kerumunan para sarjana S1 ketika mencari kerja, tanpak sekali perbedaannya terutama ketika mereka harus memperlihatkan CV (curriculum vitae). Dimana pada umumnya para fresh graduate pengalaman kerja kosong-melompong, para sarjana lulusan LP3I sudah dipenuhi dengan berbagai jam terbang diperusaahan tempat mereka bekerja sebagaimana yang telah dijanjikan akan disalurkan oleh LP3I.

LP3I memahami betul kebutuhan masyarakat luas, bahwa mereka mengirimkan anaknya kuliah dengan harapan setelah lulus langsung bekerja. Kesadaran inilah yang membuat LP3I secara berkelanjutan memacu program development-nya untuk membaca kebutuhan spesifik industry-bisnis stratejik diwilayah sekitar kampus LP3I berada/didirikan. LP3I mengukir prestasi terkait dengan customer satisfaction melalui CRM (customer realtion management) salah satunya melalui kemampuan afeksi para lulusannya. Budaya servis yang selama ini terasa masih kurang pada masyarakat Indonesia, dikedepankan oleh LP3I. Para lulusan LP3I memiliki ciri wajah riang penuh senyum serta lincah-tanggap dalam menjalankan tugas-fungsi-kewenangan pada strata middle management dikantor mereka masing-masing.



Marissa Haque & Ikang Fawzi: Lingkungan Intelektual Sangat Sehat UGM Ngangeni
Sabtu Januari 29th 2011, 23:17
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Cinta Kasih, Lingkungan Keluarga, Lingkungan Kesejahteraan

11-kenangan-kemenangan-kecil-marissa-haque-ikang-fawzi-mm-ugm-program-mba-yogyakarta-25-januari-2011

Kenangan Kemenangan Kecil Marissa Haque, Ikang Fawzi, MM UGM, Program MBA, Yogyakarta, 25 Januari 2011



Marissa Haque Fawzi: Lingkungan Koran Jurnas, PT.Telkom & Bang Syamsudin Ch Chaesy
Kamis Januari 13th 2011, 15:11
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Kesejahteraan

ikang_fawzi_marissa_haque-kapanlagi_com_jpgManager Kandatel Tasikmalaya, Wahyudin kepada wartawan mengatakan, pelatihan digelar kantor pusatnya, dan jajarannya hanya menfasilitasi tempat serta peserta. Pada kegiatan ini selain berupa penyampaian materi pencerahan oleh sejumlah sumber kompeten, pihaknya mulai menyiapkan website bagi pelaku UKM sebagai ajang publikasi.

Selain beberapa tantangan lama masih mengungkungi pelaku industri UKM halnya, kemampuan SDM, inovasi produk dan akses pasar, Ketua Kadin Kota Tasikmalaya, Wahyu Tri Rahmadi, saat ditanya terpisah memaparkan, keterbatasan akses pelaku ini terhadap fasilitas promosi atau publikasi digital adalah bagian lain dari tantangan yang di harapkan ke depan terpecahkan.

“Karenanya, kita sangat apresiasif kegiatan serupa ini sebagai kepedulian yang diharapkan lebih komprehensif memenuhi kebutuhan solusi permasalahan yang dialami pelaku UKM,” ujar Wahyu. “Saya pun yakin, melalui layanan publikasi digital gratis, sangat besar artinya bagi kalangan UKM, produk-produk unggulan lokal kita-akan terpromosikan secara luas yang tentu artinya bagi kemajuan ekonomi masyarakat,” pungkas dia.

Pada pelatihan itu hadir imagineer N. Syamsuddin Ch. Haesy, sebagai motivator yang bersama imagineer Yus Ruslan Achmad memberikan materi Imagineering Mindset, Master trainer Ismeth Ali, Pemimpin Redaksi Jurnal Nasional Asro kamal Rokan, dan Marissa Haque. [nm]

Sumber: http://www.akarpadi.com/?p=1928



Lingkungan Cinta Itu Menyembuhkan: Rima Melati dalam Marissa Haque & Ikang Fawzi
Selasa Desember 28th 2010, 18:58
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Cinta Kasih, Lingkungan Keluarga, Lingkungan Kesejahteraan

Mbak Rima Melati adalah salah satu combang kami–Ikang Fawzi & Marissa Haque. Beliau mengatakan bahwa Cinta Ikut Menyembuhkan dirinya ketika dalam perawatan sakit kanker yang pernah dialaminya dulu. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari kehidupannya berumahtangga dengan Bung Frans Tumbuan. Berikut dibawah ini kisahnya:

Source: Gaya Hidup Sehat
http://m.kompas.com/xl/read/data/2008.02.14.01265269

Banyak yang mengatakan, kekuatan cinta dapat membuat segala hal menjadi mungkin, termasuk menyembuhkan penyakit. Demikian yang dirasakan Rima Melati ketika berjuang melawan kanker payudara.

Saat divonis mengidap penyakit itu, ia merasa harapan hidupnya sangat kecil. Apalagi ketika penyakit ini sudah mencapai stadium cukup parah dalam waktu singkat, hingga Rima harus menjalani kemoterapi di Belanda pada tahun 1990.

ikang-fawzi-dan-marissa-haque-cinta-anak-anak-tangsel“Ketika itu saya sudah kecil hati, tetapi suami terus memberi semangat kepada saya untuk melawan penyakit ini,” ucap Rima, yang menikahi Frans Tumbuan pada tahun 1973.

Tidak hanya lewat kata-kata, rasa cinta Frans kepada sang istri juga diwujudkan melalui perbuatan. “Meski hanya perbuatan kecil seperti menyisir rambut yang rontok akibat kemoterapi dan membacakan buku, itu sangat berarti. Banyak orang menyerah ketika orang yang dicintainya divonis kanker. Untung itu tidak terjadi pada Frans, ia selalu menemani saya,” papar wanita kelahiran 22 Agustus 1939 ini.

Selain suami, anak-anak dan keluarga juga tak bosan mendorong Rima untuk bangkit, hingga timbul semangat dalam dirinya untuk survive dan sembuh. “Perhatian mereka menjadi obat paling mujarab bagi saya. Ada semacam kekuatan yang dapat menyembuhkan di luar obat medis.

Jadi benar kalau dibilang kekuatan cinta dapat menyembuhkan. Cinta dapat membuat seseorang menjadi kuat di kala menghadapi kritis,” sebutnya.

Kini, setelah sembuh dari kanker payudara, pemilik nama asli Marjolien Tambajong ini mengaku ikatan antara dirinya, suami, dan keluarganya bertambah erat. Ia telah membuktikan, kekuatan cinta memang menyembuhkan.