“Kisah Selebritas Lingkungan versi tempointeraktif.com: dalam Marissa Haque Fawzi”
Minggu, 20 November 2011 | 07:32 WIB
Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/hobi/2011/11/20/brk,20111120-367477,id.html


TEMPO Interaktif, Jakarta - Penggunaan figur publik untuk mengkampanyekan sesuatu sudah lazim dilakukan di berbagai bidang. Ada yang ditasbihkan sebagai duta kesehatan, lingkungan, maupun duta lainnya. Khusus di bidang lingkungan, ada puluhan bahkan mungkin seratusan selebritas yang memainkan peran duta. Sebagai panutan, ucap, sikap, dan perilaku mereka diharapkan dapat mempengaruhi dan ditiru khalayak luas.
Karena itu idealnya tentu mereka dipilih karena memang memiliki karakter yang kuat, serta kredibilitas dan integritas tinggi. Tapi tak sedikit, duta dari kalangan selebritas yang sepertinya ditunjuk cuma berdasarkan popularitas atau sekedar latah. Akibatnya, komitmen dan kiprahnya nyaris hanya terdengar saat penobatan, lalu senyap selamanya. Lebih parah, jika ada pesohor yang menunggangi posisinya sebagai duta untuk portofolio pribadi. Cilaka!
***
Lirik demi lirik lagu Orkes Sakit Hati dilantunkan oleh Kaka “Slank”, 37 tahun. Pria bernama lengkap Akhadi Wira Satriaji itu lantas menaiki tumpukan kotak pengeras suara di atas panggung dan berlenggak-lenggok menirukan gerakan komodo. “Gimana sih jogetnya komodo?” teriak Kaka. Ratusan pengunjung Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan, Senin pekan lalu, langsung histeris melihat aksi Kaka itu.
Kelompok musik Slank memang menjadi primadona pergelaran yang dinamai Konser Pilih Komodo itu. Ada 20 musikus dan grup musik yang terlibat, di antaranya Gugun Blues Shelter, Audy, Ada Band, Alexa, Ring of Fire, dan Fadly “Padi”. Abdee Negara, gitaris Slank, menjadi salah satu penggagas acara yang disiapkan hanya dalam tujuh hari itu.
Perhelatan itu demi menyukseskan Taman Nasional Pulau Komodo menjadi Tujuh Keajaiban Dunia Baru versi Yayasan New7Wonders, yang bermarkas di Swiss. Melalui konser musik ini diharapkan makin banyak orang yang mendukung Pulau Komodo dalam pemungutan suara via pesan pendek (SMS) telepon seluler sebelum ditutup pada empat hari kemudian (11 November 2011).
Slank didaulat oleh Pendukung Pemenangan Komodo sebagai duta komodo bersama Jusuf Kalla, kelompok musik RAN, dan Fadly. Menurut Emmy Hafild, Ketua Pendukung Pemenangan Komodo, figur publik seperti Jusuf Kalla dan beberapa musisi, termasuk Slank, dinilai bisa menjadi daya tarik penggalangan dukungan.
Betapa tidak. Emmy memberi contoh dampak keterlibatan Jusuf Kalla yang sangat signifikan sejak bergabung pada 30 September 2011. Jumlah dukungan yang sebelumnya hanya ratusan dukungan per hari melonjak menjadi ratusan ribu tiap hari. “Kami menumpang ketenaran beliau,” ujar Emmy dalam jumpa pers di Palang Merah Indonesia Pusat, 4 November lalu.
Sementara itu, Bimbim, penabuh drum Slank, menganggap ajakan untuk menggalang dukungan bagi Pulau Komodo sebagai sesuatu yang seru. “Setidaknya Indonesia bisa bersatu mendukung Komodo,”kata Bimbim saat ditemui Kamis pekan lalu.
“Orang Indonesia saja banyak yang belum tahu. Enggak menang enggak apa-apa karena efeknya besar, masyarakat jadi tahu,” ujar musikus bernama asli Bimo Setiawan Almachzumi ini.
Bukan kali ini saja Slank berpartisipasi dalam kegiatan bertema lingkungan hidup atau dinobatkan sebagai duta lingkungan. Setidaknya, sejak 2006, mereka telah menjadi “Duta Indonesia Hijau” dari Kementerian Lingkungan Hidup. Duta Indonesia Hijau memfokuskan perhatiannya untuk mengajak masyarakat luas melakukan konservasi dan mengembalikan fungsi lingkungan hidup.
Slank memulainya dari lingkup sendiri, yakni para penggemarnya, yang dikenal dengan sebutan Slankers. “Kami mengajak menjaga lingkungan hidup melalui lagu dan jejaring sosial Twitter. Sangat efektif karena Slankers tersebar hampir di semua kabupaten-kota di Indonesia,” kata Bimbim.
Slank juga kerap bekerja sama dengan lembaga peduli lingkungan, seperti Pro Fauna dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). “Kami kadang meminta Pro Fauna dan Walhi memberikan penyuluhan kepada fans tentang lingkungan,” ujar pentolan Slank ini.
Selain Slank, yang termasuk Duta Indonesia Hijau di antaranya Angelina Sondakh, Nugie, Paramitha Rusady, dan Titi Kamal. Selebritas lainnya menjadi “juru bicara” untuk aspek pelestarian lingkungan atau “Duta Kelestarian Lingkungan”. Mereka–Ebiet G. Ade, Lula Kamal, Dewi Sandra, dan Mona Ratuliu–bertugas menyebarkan informasi yang mudah dicerna tentang kesadaran akan keseimbangan antara ruang hijau terbuka dan kawasan permukiman.
Ada juga duta penataan hukum lingkungan, yang memusatkan perhatian pada penegakan hukum terhadap lingkungan melalui karya-karyanya, seperti yang dilakukan budayawan Radhar Panca Dahana. Duta penataan hukum lingkungan lainnya adalah penyiar televisi Rahma Sarita, penyanyi Iga Mawarni, serta artis Wanda Hamidah dan Marissa Haque.

Tercatat pada 2007 ada 100-an figur publik yang menjadi duta lingkungan hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup. Ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim, mereka ikut berperan mengkampanyekan isu perubahan iklim.
Para selebritas itu dilibatkan, menurut Henri Bastaman, Deputi VII Menteri Lingkungan Hidup, lantaran mereka sangat komunikatif terhadap khalayaknya. “Mereka mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang tidak terpikirkan oleh kami yang berpuluh-puluh tahun berkecimpung dalam masalah ini,” ujarnya.
Henri memberi contoh Dessy Ratnasari sebagai duta insan berwawasan lingkungan. Dessy menjelaskan kepada ibu-ibu betapa pentingnya mengkonservasi air tanah. “Coba ibu-ibu pikir, siapa yang paling susah kalau di kawasan ini sulit mendapatkan air? Kan, kaum perempuan kayak kita ini juga. Kalau enggak bisa cebok, enggak bisa mandi, gimana?” kata Henri menirukan ucapan Dessy yang menyentuh ibu-ibu kala itu.
Meski mengerahkan puluhan selebritas, Kementerian Lingkungan Hidup tidak mengeluarkan anggaran khusus. Menurut Henri, semuanya melalui pendekatan pertemanan. “Dengan persuasif mengajak dan menyentuh agar mereka terlibat,” ia menjelaskan. “Semuanya pro bono, mereka hanya diberi panggung,” Henri menambahkan.
Oppie Andaresta misalnya, yang kini tengah menggarap buku cerita dan lagu anak bertema lingkungan hidup. “Penggarapan buku dan CD sudah 70 persen. Ada sekitar delapan lagu ciptaan saya sendiri,” kata penyanyi yang terkenal lewat hit Cuma Khayalan ini.
Oppie, yang bersama Ian Kasela, vokalis grup band Radja, ditunjuk Kementerian Lingkungan Hidup sebagai duta lingkungan hidup pada Juni lalu, mengaku sampai sekarang belum mendapat bantuan dana dari Kementerian. Baginya, itu bukan kendala. “Prinsip saya, sekali bekerja, ya, dikerjakan saja meski dengan tenaga dan biaya sendiri,” ujarnya.
Hal lain yang dikeluhkan Oppie adalah tidak adanya program yang ditugaskan Kementerian kepadanya sejak ditunjuk menjadi duta. Ia mengaku berinisiatif mendatangi pejabat Kementerian untuk menanyakan tanggung jawab serta apa yang bisa disinergikan dengan program Kementerian.
Hal itu dibenarkan Henri karena sifat dari kegiatan ini yang sporadis. Tiap duta lingkungan berperan di arenanya masing-masing. Tidak ada agenda dan target tertentu yang dicanangkan. “Mereka membantu kegiatan kami. Kalau mereka membuat kegiatan sendiri, misalnya donasi pohon, kami akan memfasilitasi,” ujar Henri.
Karena mengandalkan kegiatan sporadis, banyak juga duta lingkungan yang sekadar numpang lewat. Sekali muncul lalu tak ketahuan lagi perannya. Apalagi popularitas seorang selebritas juga ada pasang-surutnya.
Proses pemilihan duta lingkungan juga tidak melalui kualifikasi yang ketat. Tidak ada syarat harus sudah menerapkan pola hidup hijau dalam kesehariannya. “Terlalu berlebihan kalau menerapkan syarat, apalagi kontrak. Yang penting mereka memiliki keinginan dan kepedulian saja dulu,” ujar Henri, yang ditugasi Menteri Nabiel Makarim mencari figur-figur pada 2003.
Walhasil, pihaknya, kata Henri, kerap mendapat keluhan dari masyarakat. Keluhan itu, misalnya, kenapa ada duta lingkungan yang pola hidupnya malah tak ramah lingkungan. Semua keluhan dijawab dengan penjelasan bahwa niat baik dari para selebritas itu yang seharusnya diapresiasi.
Penyanyi Nugie termasuk yang dikritik karena kebiasaan merokoknya. Tapi, bagi pemilik nama lengkap Agustinus Gusti Nugroho ini, merokok tidak lebih buruk ketimbang menggunakan kendaraan bermotor. “Gaya hidup sehat tapi masih pakai mobil, gimana? Kan, jelas-jelas emisi kendaraan bermotor yang bikin buruknya udara.”
Gaya hidup hijau, kata Henri, kini sudah menjadi tuntutan. Terlebih bagi para duta lingkungan ini. “Setidaknya itu merupakan pencitraan bagi mereka.” Henri memberi beberapa contoh: Dik Doank yang kini membuka sekolah alam, Sherina yang menjalani pola hidup organik, dan Nugie yang selalu bersepeda dari kediamannya di Bintaro, Tangerang, ke tempat kegiatannya di Jakarta.
***
Para selebritas peduli lingkungan tidak hanya bekerja dengan Kementerian Lingkungan Hidup, tapi juga dengan organisasi nirlaba atau lembaga swadaya masyarakat. World Wide Fund for Nature (WWF), contohnya. Menurut Devy Suradji, Direktur Komunikasi dan Pemasaran WWF Indonesia, para selebritas itu datang dengan 1.001 ide. “Mereka mau buat acara, WWF coaching mereka,” ujar Devy.
Mereka yang mendukung program WWF itu disebut Pendukung Kehormatan. Bentuk dukungan bisa berupa finansial maupun tenaga yang bisa dipakai. Nadine Chandrawinata serta dua adiknya, Marcel dan Mischa; Nugie; dan model Davina, yang peduli terhadap masalah plastik, adalah contoh Pendukung Kehormatan WWF Indonesia.
Peran mereka, menurut Devy, sangat efektif. “Ibaratnya kalau kita mau belanja baju, yang menjelaskan pilihan yang bagus itu orang yang kita kenal, maka kita merasa nyaman, kan? Mereka itu panutan, public figure.”
Baik Devy maupun Henri sepaham bahwa figur publik sebagai duta lingkungan masih diperlukan. Henri mengakui, dua tahun belakangan ini gaung duta lingkungan agak meredup seiring dengan perubahan kebijakan. Namun Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, kata Henri, dalam peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2011 menegaskan kembali pentingnya melibatkan masyarakat dalam upaya melestarikan lingkungan hidup.
l ISHOMUDDIN | DIANING SARI | PURWANI PRABANDARI | DODY
“Kisah Selebritas Lingkungan versi tempointeraktif.com: dalam Marissa Haque Fawzi”
Lingkungan Islami Sahabatku Astri Ivo: Marissa Haque Fawzi
Menu Istimewa Astri Ivo
Selasa, 23 Agustus 2011 | 07:38 WIB
TEMPO/Nickmatulhuda
TEMPO Interaktif, Kesibukan selebritas Astri Ivo di bulan Ramadan ini semakin padat. Jadwalnya penuh dengan kegiatan siar agama di berbagai tempat. Namun, kesibukan itu tak membuatnya jauh dari keluarga. Bahkan, Astri selalu menyediakan menu istimewa untuk tiga buah hatinya.
Ia berusaha menyeimbangkan berbagai kegiatannya dengan ibadah dan keluarga tercintanya. Hak keluarga pun tak terabaikan. “Ini bulan istimewa, jadi saya menyiapkan yang istimewa juga buat mereka, terutama anak-anak,” ujar Astri kepada Tempo, dua pekan lalu.
Menu istimewa yang selalu disiapkan adalah menu kesukaan tiga buah hatinya. Biasanya Astri akan menyediakan pasta atau makanan Jepang. “Ganti-ganti. Kalau hari ini pasta, besoknya masakan Jepang,” ujar penulis buku Cantik Sepanjang Usia ini.
Menu kesukaan ini tentu saja membuat anak-anaknya betah di rumah. Bahkan, Astri mempersilakan buah hatinya mengundang teman-temannya berbuka puasa di rumah mereka. Hal ini membuat Astri dapat mengawasi pergaulan anak-anaknya.
Saat ini Astri sibuk berceramah di Jakarta dan di luar Jakarta. Di berbagai tempat siarnya, biasanya dia mempromosikan pentingnya menutup aurat dengan menggunakan jilbab. Astri pun kadang masih syuting untuk sinetron religi pendek.
DIAN YULIASTUTI
http://www.tempointeraktif.com/hg/seleb_lebaran_10/2011/08/23/brk,20110823-353089,id.html
“Marissa Haque & Ikang Fawzi: LIngkungan Berkah Yogyakarta “
Pada tanggal 18 Agustus 2011 lalu selepas HUT Kemerdekaan RI ke 66, saya Marissa Haque Fawzi berhasil lulus dengan nilai “A” bulat dari FEB (Fakultas Ekonomi Bisnis) di UGM (Universitas Gadjah Mada). Sebelumnya pada awal tahun tepatnya Januari 2011 ini Ahmad Zulfikar Ikang Fawzi suamiku berhasil lulus duluan dengan pencapaian sama yaitu “A” bulat juga. Bukan untuk bersaing namun justru kelak untuk saling melengkapi atau aliansi atau kolaborasi. Karena Ikang lebih fokus kepada ekonomi makro berbasis kepada Teori Adam Smith (Keynesian) sementara saya lebih memilih meletakkan hati-pikiran-energi kepada ekonomi mikro syariah berbasis kepada semangat Prof Mubyarto (Mubyartois).

Proses ujian sidang MBA saya alhamdulillah paling lancar di hari itu, karena hanya memakan waktu sekitar 25 menitan. Dengan masa 15 menit presentasi dan 5-10 menit menjawab pertanyaan lisan dari tiga orang penguji, yaitu: (1) Prof.Dr. Basu Swatha Dharmmesta/Pakar Marketing Strategic temannya Prof. Philip Kottler; (2) Dr. Fahmi Radhi/Direktur The Mubyarto Institute; (3) Dr. Goedono/Pakar Strategic Management.
Selesai ujian sidang tertutup MBA tersebut saya langsung didaulat untuk mempresentasikan hasil penelitian selama enam bulan tersebut di LOS (Lembaga Ombudsman Swasta) milik Pemda DIY/Kesultanan Yogya sembari buka puasa bareng dengan beberapa media lokal di sana.
Keseokan harinya tertanggal 19 Agustus 2011, silaturahim ke Pendopo Keluarga besar Prof.Dr. Amin Rais Guru Besar FISIPOL UGM. Di sana saya diterimas anak menantu Pak Amin Rais istri dari Hanafi Rais beserta Ibu dan anak-anaknya. Juga Hanum Rais putri Pak Amin yang memiliki hobi sama dengan saya yaitu : “menulis!”
Tak dinyana ternyata kami merasa cocok dan ingin terus melanjutkan silaturahim ke depannya demi kemajuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami ingin melihat Mas Hanafi Amin Rais menjadi Walikota Yogyakarta 2011 besok ini. Karena Mas Hanafi dan juga Prof. Amin Rais sangat mendukung keberadaan BMT seperti apa yang telah saya dapatkan dari hasil penelitian MBA ku sebelumnya.
Insya Allah doa kami semua dapat ridho Allah Azza wa Jalla dan dikabulkan-Nya…
Amiiiin… Ya Robbal Alamiiin…
“Marissa Haque & Ikang Fawzi: Silaturahim di Yogya Memang Berkah “
“Lingkungan Damai di Yogyakarta: Marissa Haque Fawzi”
Kata Mbak Meta Thereskova salah seorang karibku di Yogyakarta: “…kan Yogyakarta memang istimewa?” Hehe…iya juga ya, bukankah Yogyakarta adalah DIY singkatan dari Daerah Istimewa Yogyakarta?
Di hari Minggu yang sepi di Pelangi Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, pada hari kedua pasca kepulangan dari Yogyakarta kemarin, masih terbayang suasana dan aura Yogya yang pada bulan Agustus 2011 ini semilir anginnya terasa sangat sejuk. Sambil membalas beberapa sms terakhir yang masih tersisa di dalam kedua HP ku, tangan ini pun terasa ingin cepat-cepat mengatur jadwal keberangkatan berikutnya untuk kembali ke Yogyakarta.
Yogya memang sekarang menjadi seperti rumah kedua kami (Ikang dan Marissa). Ada rasa damai-menyenangkan tertentu yang kami rasakan dikala bersentuhan dengan tradisi, alam, kultur, serta masyarakatnya di sana. Kesan mendalam kami bahwa masyarakat Yogya itu masyarakat hangat serta sangat santun. Bahkan Kak Rambe (dra. Mursida Rambe) sahabatku sejak lama seorang pejuang dan pengusaha BMT asal Sumatra Utara, karena sudah sejak SMA sekolah di Yogya dan menikah dengan seorang pria Yogya, sekarang sudah sangat ‘njaweni.’ Malah terkadang lebih Jawa dari orang Jawa yang asli.
Pada bulan Januari tahun 2011 lalu, Ikang Fawzi suamiku alhamdulillah berhasil mendapatkan gelar MBA nya dari FEB UGM dengan nilai ujian thesis ”A” bulat. Ikang suamiku memang selalu punya hati dan penuh perhatian pada bisnis properti yang telah dijalankannya sejak awal lulus S1 dulu dari FISIP UI bersama Ir. Ade Syamsul Nilwan Fawzi kakaknya yang menjadi seorang arsitek (lulusan FT Arsitektur UI). Insya Allah dalam bulan suci Ramadhan ini saya berhasil mengikuti langkah sukses Ikang Fawzi suamiku. Yaitu mendapatkan gelar MBA dari FEB UGM.
Lalu apakah saya juga mampu mendapatkan nilai kelulusan ujian thesis dengan juga bernilai ”A” bulat seperti Ikang suamiku? Hhhmmm…entahlah…terserah Allah SWT saja, dan terserah penilaian Dewan Penguji besok ini . Karenanya saya jadi lalu terngiang pesan atau wejangan dari Mamaku almarhumah asal Madura, R.Ay Mieke Soeharijah sebagai berikut: “… just do the best and Allah will do the rest!”
Penelitianku untuk MBA dari FEB (Fakultas Ekonomi Bisnis) UGM (Universitas Gadjah Mada) adalah tentang Baitut Tamwil atau Baitul Maal wa Tamwil. Sebuah lembaga keuangan mikro syariah non-bank di kota Yogyakarta bernama BMT Beringhardjo. Bagaimana strategi bersaing serta bertahan para kelompok penggiat BMT di seluruh Indonesia, dengan studi kasus di Yogyakarta . BMT yang selama ini terbangun secara alamiah serta tanpa sentuhan atau campur-tangan pemerintah pusat. Serta sampai hari ini menolak untuk diberlakukan sama denga perbankan pada umumnya yang berada di bawah PBI (Peraturan Bank Indonesia).
Namun, ditengah gempuran arus deras hot money dari luar negeri belakangan ini, melalui BEI (Bura Efek Indonesia) serta beberapa perbankan nasional dan asing yang turut masuk pada pasar yang sama ber’baju’ syariah serta memberikan penawaran lebih menarik berupa cost of money yang rendah. Hari ini, para penggiat BMT ini tidak bisa lagi beroperasi dengan cara tradisonal seperti biasanya di masa kejayaan masa lalu. Diperlukan “Strategy and Initiative Management Office.”
Bila sebelumnya seperti layaknya pengusaha kelas UKM dan UMKM, BMT sering menganggap tidak terlalu penting urusan strategi, maka pada masa borderless world sekarang ini strategi memaegang peranan signifikan dalam memenangkan persaingan serta mampu menjawab tantangan zaman.
Sejujurnya, BOS atau the Blue Ocean Strategy belum dibutuhkan pada level BMT. Karena dengan hampir 80% penduduk Muslim di Indonesia, BMT yang berlandaskan Islam secara otomatis menjadikan para pesaing dari lembaga keuangan konvensional menjadi “tidak relevan.”
Yang penting dalam kaitan keberadaan BMT agar berkelanjutan adalah, bahwa bagaimana setelah mereka tahu bahwa mereka baik, mereka juga tahu seberapa baik yang mereka inginkan ke depannnya (harus dicapai). Atau dalam bahasa ‘keren’nya adalah: “They know that they are good, but how good they really wanna be!” Tentu semuanya kembali kepada tujuan awal perusahaan didirikan atau dibentuk, berupa visi dan misi BMT.
Bersentuhan dengan Mazhab Bulaksumur di UGM, mengasah asa kepedulianku pada aliran Ekonomi Kerakyatan. Almarhum Prof. Mubyarto memang tidak pernah kutemui secara langsung, karena saya baru bergabung dengan UGM pada masa kurang dari empat tahun belakangan ini. Namun hampir seluruh buku yang dikarang dan ditulis beliau telah habis saya baca. Sehingga ketika saya memperdalam sistem ekonomi dalam Islam, langsung terasa ” klik” atau kohesif seluruh pemikiran beliau, mirip dengan yang apa yang ada di dalam Al Quran.
Seperti juga dalam banyak pemkiran Prof. Satjipto Rahardjo dalam ranah Ilmu Hukum, rasanya kok banyak sekali yang klik dengan pemikiran sistem hukum dalam Islam!
Lalu kesamaan di antara keduanya adalah, bahwa dua professor favoritku tersebut banyak dimusuhi oleh koleganya sendiri karena dianggap berpikir diluar kotak (out of the box). Namun, bukankah Rasulullah Muhammad SAW disaat menjalankan upaya dakwah rahmatan lil alamin nya juga berkondisi demikian?
Sehingga ketika datang pelecehan massal dari arah tak bertanggungjawab yang menuding bahwa saya mencari popularitas dengan memperdalam ekonomi Islam, lalu karena saya adalah artis tua yang sudah tidak laku lagi di sana-sini, maka walau hati ini terasa pilu namun langkah kaki tetap kuayuhkan secara mantap menuju ‘Muara” Sang Kekasih Abadi… Allah Azza wa Jalla.
Di sisa usiaku kini, masih ada beberapa cita-cita yang belum kesampaian. Salah satunya adalah menjadi ahli dalam strategi ekonomi syariah serta menjadi konsultan pada Bursa Efek Indonesia di Jakarta terkait the Islamic Index. Insya Allah demikian adanya, untuk hidup serta masa depanku di jalan Allah.
Seluruh ilmu yang kudapatkan di dalam pencapaiannya adalah dari Universitas Gadjah Mada di Yogayakarta (dan Jakarta). I wish Allah SWT will always bless UGM and Yogyakarta as well.
Amiiin…
Sumber (1): Sumber (2): “Damai Hatiku di Yogyakarta: Marissa Haque Fawzi”
Dugaan Lingkungan Bau Busuk Andi Nurpati: Marissa Haque Fawzi (Korban Putaran 3 DPR RI 2009)
Prof Mahfud…ayo Pak… go for the best…
for Indonesia!
Belum Merdekaaaa…
Negara Kotor Indonesia: Ketika Keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) Putaran 3 DPR RI Dilecehkan KPU 2009

Jikalau Presiden SBY mendiamkan, katanya sih biasanya artinya adalah memang beliau setuju!
Ya Allaaah… benarkah Presien SBY terlibat didalam dugaan kriminal 7 (tujuh) orang komisioner KPU 2009 yang diketuai oleh Prof. Dr. Hafiz Anshari dan diasisteni secara aktif oleh Andi Nurpati, Putu Artha, Endang Lestari dengan aktor lapangannya adalah Sigit Ketua Departemen Hukum KPU 2009?
Sumber: Laporan wartawan KOMPAS.com
Caroline Damanik
JAKARTA, KOMPAS.com- Bukan hendak syuting, pasangan artis Ikang Fawzi dan Marissa Haque yang sebelumnya juga menjadi calon anggota legislatif mengajukan komplain atas penetapan calon anggota legislatif ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Senin (25/5).
Beserta caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) Dedy Djamaludin Malik, Ikang dan Marissa menduga adanya kecurangan dalam proses penetapan caleg terpilih pada tahap ketiga pembagian kursi di daerah pemilihan Jawa Barat.
“Caleg PPP Nu’man Abdul Hakim harusnya suaranya hangus. Dedi Djamaludin Malik harusnya mendapat kursi karena memperoleh suara tertinggi di tahap ketiga,” tutur Marissa seusai menemui komisioner KPU Andi Nurpati.
Baik Ikang maupun Marissa menduga ada permainan yang dilakukan antara saksi parpol dan KPU dalam penetapan caleg terpilih. Menurut Marissa, sebenarnya di tahap ketiga penghitungan kursi di tingkat provinsi, PAN memiliki sisa suara tertinggi dan memenuhi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). “Tapi hak PAN sebagai partai dengan sisa suara tertinggi yang lebih punya hak, dikebiri oleh PPP,” ujar Marissa yang juga berasal dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
“Kami tidak menang juga tidak mengapa. Tapi lebih kepada rasa keadilan yang terusik. Ini telanjang, siapapun bisa menghitungnya,” tambah Marissa.
Ikang dan Marissa pun curiga terhadap permainan oknum partai untuk melakukan negosiasi di luar partai. Menurut Ikang yang menjadi caleg Partai Amanat Nasional (PAN) di dapil Banten I, dalam penghitungan tahap ketiga, sisa kursi hanya terdapat di dapilnya. Dapil Banten II dan III sudah terisi semua.
“Otomatis saya yang masuk (di penghitungan tahap ketiga) dengan total suara 30.000-an. Sisa kursi kan di dapil 1. Tapi saya dengar oknum-oknum partai (PAN) ngotot diserahkan kepada Ketua DPW setempat,” tutur Ikang.

Ketika Ikang dan Marissa ditanyakan respon masing-masing partai mereka, keduanya sama-sama mengatakan proses penetapan tidak transparan. Apalagi dengan kondisi internal partai yang sedang terbelah menjelang Pilpres.
Marissa bahkan mengatakan telah menghubungi Ketua Umum PPP Suryadharma Ali. “Dia (SDA) malah bilang, ‘Dilawan aja Fernita. Kalau dibilang begitu, berarti itu keputusan Fernita, bukan keputusan partai,” tutur Marissa dengan gusar. Fernita adalah saksi PPP dalam rekapitulasi suara dan kursi.
Menurut Marissa, respon KPU juga tak memuaskan. KPU menyerahkan perdebatan kepada saksi parpol yang bersangkutan. Selanjutnya, Marissa berencana melaporkan Fernita, saksi PPP dalam rekapitulasi suara dan kursi bersama KPU, ke Polda Metro Jaya atas dugaan penyelundupan hukum atas kecurangan penetapan caleg terpilih.
Sumber: http://marissahaquefawzi.blog.friendster.com/